Sabtu, 09 Maret 2019

MARTABAK PISANG



 Pada umum nya martabak berbahan dasar daging, namun di Desa Banua Lawas martabak berbahan dasar pisang. Pengrajin martabak yang terkenal disini adalah acil itin. Beliau setiap hari membuat martabak untuk di jual di warung-warung. Pembuatan martabak pisang ini hampir sama dengan martabak pada umumnya. Namun martabak biasa isi nya adalah daging sedangkan ini isi martabaknya adalah pisang. Harga nya pun sangat terjangkau, hanya  Rp 1000.

BINGKA KACUNG





Bingka kacung adalah kue Khas kabupaten Tabalong yang berasal dari Kecamatan Kelua, kue ini sangat banyak ditemukan pada bulan Ramadhan, diluar bulan Ramadhan kue ini memang diperjualbelikan namun jumlahnya lebih sedikit dibanding dibulan Ramadhan. Kue ini yang bahan utamanya dari Kentang ini atau biasa disebut Bingka Kentang. Bentuk kue ini adalah segi enam dengan warna kecokelatan dan cara pembuatanya dengan dipanggang.
Nama Bingka kacung sendiri diperoleh dari kebanyakan pembeli yang menamakan kue ini, sedangkan kacung itu adalah nama orang/ pembuat kue ini. Oleh karena keseringan orang – orang menyebut bingka ini dengan diembel – embeli dengan nama pembuatnya, maka dari sinilah Nama Bingka Kacung itu diperoleh dan sampai sekarang kue ini masih diproduksi meskipun pembuat/ Kacungnya sudah meninggal Dunia. Pembuatan bingka kacung sekarang ini diproduksi oleh anak – anak beliau. Khusus untuk wilayah selatan Kabupaten Tabalong, hampir setiap ada pasar pasti ada dijual Kue Bingka ini, baik di Pasar Kecamatan Banua Lawas/ Pasar Arba dan juga dipasar – pasar kecil lainya.
Sebagai Informasi tambahan, selain Bingka Kacung/ Kentang, ada juga yang namanya Bingka Barandam. Bingaka Barandam/ Telor ini berbeda dengan Bingka Kacung, dari segi bahanya sudah berbeda yaitu kalau kacung menggunakan Kentang, sedangkan Barandam menggunakan Telor. Dari segi membuatnya juga berbeda kalau Kentang dibuat dengan dipanggang sedangkan Barandam dibuat dengan dikukus, jadi para penikmat kue ini sekiranya bisa membedakan mana yang namanya Bingka Kacung dan Bingka Barandam.

BINGKA BARANDAM



Bingka barandam merupakan sebuah kue yang biasanya sering ditemui pada saat bulan Ramadhan atau bulan puasa. Nama bingka barandam berasal dari proses memakan kue tersebut dengan cara kue terlebih dahulu diletakan dipiring atau mangkok kemudian disiram air gula sampai dengan terendam.

Adapun bahan-bahan yagn diperlukan untuk membuat kue ini yakni telur, tepung, mentega, air, dan gula. Cara pembuatannya cukup sederhana, campurkan tepung dan telur kocok sampai rata, kemudian oleskan margarin dicetakan yang sudah dipanaskan lalu tuangkan adonan ke cetakan, kemudian panggang selama 10 menit.

CANAI





Canai adalah sejenis keripik yang dimakan dengan kacang hijau. Pengrajin canai banyak ditemukan di desa Sei Rukam Kec. Pugaan dan desa sei Anyar kecamatan Banua Lawas. Keripik canai terbuat dari adonan tepung, telur dan mentega yang di adon sampai kalis kemudin di cetak bulat seperti piring kemuadian digoreng. Sedangkan bubur kacang hijau nya dimasak seperti biasa, namun ditambah rempah-rempah merica, bawang merah bawang putih, garam, bunga lawang, kapulaga, cengkeh dan kayu manis. Kemudian bubur kacanng hijau dicampur dengan jeroan ayam yang di potong kecil kecil. Dimasak sampai mengental. Keripik canai siap dimakan dengan bubur kacang ijo.

MASAK TUHA



Masakan ini sudah mulai jarang ditemukan. Sesuai dengan namanya masak tuha, masakan ini sudah ada sebelum Indonesia Merdeka, ada beberapa hal yang mendasari nama masakan ini pada zaman dahulu, yaitu orang/ pembuat masakan ini berusia lanjut atau bahasa banjarnya orang tuha, penyuka masakan ini juga orang tua, selain itu masakan yang menggunakan santan kelapa ini juga ada kaitanya dengan banyaknya pohon kelapa pada saat itu, sehingga membuat masakan ini tidak terlalu sulit.
Adapun bahan – bahan untuk membuat masakan ini adalah :
  • Ikan Haruan/ Gabus 
  • Kelapa parut
  • Kayu manis
  • Gula
  • Garam
  • Bawang goreng
  • Kacang putih
  • Penyedap Rasa

MAKAN BATALAM


Sejak jaman kolonial belanda, masyarakat muslim di Desa Hapalah, Desa Bangkiling Raya, dan Desa Bangkiling, Kecamatan Banua Lawas setiap tahunnya merayakan Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW secara besar-besaran melibatkan seluruh masyarakat yagn merupakan wujud ke gotong-royongan. Jarak yang ditempuh untuk menuju lokasi Makan Batalam 33 Km dari Tanjung ke arah Selatan.
Makan batalam adalah makan bersama satu wadah (talam) versi tradisi muslim arab sambil memperingati maulid nabi. Keunikan tradisi masyarakat Kecamatan Banua Lawas yang hanya dilakukan 3(tiga) desa tersebut dalam melaksanakan Peringatan Maulid Nabi untuk menjamu tamu dengan menyediakan makanan khas didalam talam, yaitu berupa itik panggang dan ayam panggang (masing-masing setengah ekor) yang disertai dengan kuah sop, mie goreng, kue tradisional, dan masakan lainnya.
Persediaan makan yang disiapkan untuk undangan /tamu disiapkan oleh masing-masing kepala keluarga yang ada didesa yang diangkut secara gotong-royong. Kedatangan tamu/undangan yang dihormati seperti pangeran, disambut dan dipayungi oleh kelompok hadrah diikuti dengan mengalunkan syair-syair islami.

Jumat, 08 Maret 2019

ISLAMIC CENTER TABALONG

Masjid Al-Abrar merupakan ikon dari komplek Islamic Center ini. Bangunan masjid megah dengan arsitektur Modern. Islamic Center Tabalong dibangun di atas lahan milik pemerintah Kabupaten Tabalong, namun keseluruhan pembangunan komplek ini didanai oleh PT Adaro Energy Tbk, salah satu perusahaan tambang batu bara yang beroperasi di kabupaten Tabalong. 
Lokasi
Masjid Raya Al-Abrar & Tabalong Islamic Center
Jl. Ahmad Yani, Tanjung, Kecamatan Murung Pudak,
Kabupaten Tabalong, Kalimantan Selatan
2° 10' 54.63" S  115° 26' 22.00" E

Pembangunan komplek Islamic Center ini selesai pada tahun 2012 dan menghabiskan dana sekitar 52 milyar rupiah. Garibaldi Thohir, selaku pimpinan perusahaan Adaro menyatakan bahwa pembangunan masjid dan Islamic center tersebut karena di Tabalong yang masyarakatnya mayoritas muslim namun masjid disana kecil kecil. Masyarakat Tabalong mayoritas bersuku Banjar sangat kental Ke-Islamannya. Pembangunan Islamic Center tersebut merupakan bagian dari program CSR (Coorporate Social Responsibility) Adaro Group.
Rancangan masjid ini memang cukup unik. Kubah masjid yang terbalik sehingga mirip dengan mangkuk terbuka ternyata hal itu mempunyai simbol apabila itu simbol kedua tangan yang lagi menadah dan sedang berdoa kepada Allah SWT. Bukan hanya itu saja, tulisan Kaligrafi islam yang terlihat indah menghiasi semua dinding bangunan, ornamen motif geometris menjadi ciri khas pada setiap bangunannya.


 

Keseluruhan komplek Islamic Center ini berdiri di atas lahan seluas 5 hektar. Masjid Al-Abrar dibangun dua lantai dan mampu menampung hingga 3500 jemaah. Selain itu juga memiliki plaza seluas 1500m2 yang dapat digunakan sebagai sarana praktik ibadah haji lengkap dengan maket bangunan ka’bah, ruang perkantoran, perpustakaan, pelatihan dan ruang serbaguna.
Komplek Islamic Center ini juga dilengkapi dengan 2 gedung komersial dengan luas masing-masing masing 600 m2, Gedung Auditorium di dalam kawasan komplek Tabalong Islamic Center didesain dengan mengusung tema rumah tradisional Banjar seluas 1300 m2 dan dapat memuat sampai 700 orang, gedung ini dapat dimanfaatkan untuk area pertemuan, resepsi, training, dan sebagainya.


sumber  https://singgahkemasjid.blogspot.com